Menatap Langit Tinggalkanlah Semua Sakit

Blognya Esha Ardhie 150

Sebuah syair menuturkan:

"Terkadang melalui cobaan, Allah memberikan kenikmatannya betapa pun besarnya cobaan tersebut. Namun terkadang melalui kenikmatan, Allah justru memberikan ujiannya terhadap kaum tertentu.."

Abu Ja'far Muhammad bin Badina al-Maushili mengatakan:

أنشدني ابن أعين في أحمد بن حنبل: أضحى ابن حنبل محنة مأمونة

Ibnu A'yan bersenandung kepadaku tentang Ahmad bin Hanbal, "Ibnu Hanbal telah membuat ujian menjadi ketentraman.." [Tarikh Dimasyq no. 3605]

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ

"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.." [QS. Al-Baqarah: 144]

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

ما خرج النبي صلى الله عليه وسلم من بيتي قط إلا رفع طرفه إلى السماء

"Setiap kali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari rumahku, beliau mengarahkan pandangannya ke langit.." [HR. Abu Dawud no. 5094, An-Nasai no. 5486, Ibnu Majah no. 3884, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أهمه الأمر، رفع رأسه إلى السماء فقال: سبحان اللّه العظيم. وإذا اجتهد في الدعاء، قال: يا حيُّ يا قيومُ

"Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengalami kegundahan karena suatu hal, beliau memandang ke arah langit sambil berkata, 'Subhanallahil Azhim'. Namun apabila beliau bersungguh-sungguh sekali dalam doanya, beliau mengucapkan, 'Ya Hayyu Ya Qayyum'." [HR. At-Tirmidzi no. 3436, Syaikh Al-Albani mengatakan "Dha'if Jiddan" (lemah sekali) dalam Silsilah Adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah no. 6345]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ومن علاجها : أن يعلم أن مرارة الدنيا هي بعينها حلاوة الآخرة ، يقلبها الله سبحانه كذلك ، وحلاوة الدنيا بعينها مرارة الآخرة ، ولأن ينتقل من مرارة منقطعة إلى حلاوة دائمة ، خير له من عكس ذلك

"Kiat untuk mengobati penyakit musibah adalah dengan menyadari bahwa kepahitan dunia itu sendiri adalah kemanisan untuk akhirat. Demikianlah Allah membolak-balikkan keduanya, kemanisan dunia justru akan menjadi kepahitan akhirat. Beralih dari kepahitan yang terbatas menuju kemanisan yang abadi itu lebih baik daripada kebalikannya." [Zadul Ma'ad, 4/179]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

حفت الجنة بالمكاره وحفت النار بالشهوات 

"Surga itu ditopang dengan hal-hal yang dibenci oleh nafsu, sementara Neraka itu ditopang dengan hal-hal yang disukai oleh syahwat." [HR. Muslim no. 2822, At-Tirmidzi no. 2559]

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan maksud hadits tersebut, beliau mengatakan:

وفي هذا المقام تفاوتت عقول الخلائق ، وظهرت حقائق الرجال فأكثرهم آثر الحلاوة المنقطعة على الحلاوة الدائمة التي لا تزول ، ولم يحتمل مرارة ساعة لحلاوة الأبد ، ولا ذل ساعة لعز الأبد ، ولا محنة ساعة لعافية الأبد ، فإن الحاضر عنده شهادة ، والمنتظر غيب ، والإيمان ضعيف ، وسلطان الشهوة حاكم ، فتولد من ذلك إيثار العاجلة ، ورفض الآخرة

"Untuk memahami konteks ini, akal manusia memang bertingkat-tingkat, dan demi memahaminya terkuaklah hakikat seorang manusia sejati. Kebanyakan orang lebih mendahulukan kenikmatan sementara daripada kebahagiaan abadi yang tak pernah terputus, sehingga mereka tidak mampu menahan kepahitan sejenak demi kenikmatan selamanya, menghinakan diri sebentar demi kemuliaan abadi, atau menahan cobaan sesaat demi keselamatan tak terbatas. Karena yang tampak oleh mata itulah yang ada menurut mereka, sementara yang akan datang hanyalah fatamorgana. Karena keimanan mereka sudah lemah dan syahwat sudah sedemikian menguasai diri mereka. Dari situlah lahir kecenderungan mendahulukan kehidupan dunia dan menolak kehidupan akhirat." [Zadul Ma'ad, 4/179-180]

Jika kita mendapati suatu takdir yang tidak kita sukai, maka lihatlah musibah tersebut dengan pandangan:

1. Pandangan tauhid, kita melihat musibah tersebut dengan pandangan iman bahwa segala sesuatu yang terjadi telah Allah takdirkan sejak 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, dan kita beriman kepada takdir yang baik maupun kepada takdir yang buruk. Kita melihatnya dengan pandangan tauhid, bukan dengan pandangan akal kita dan bukan dengan perasaan kita.

2. Pandangan adil, bahwa segala sesuatu yang Allah takdirkan adalah suatu keadilan karena Allah Maha Adil dan Allah tidak pernah berbuat zhalim kepada para hamba-Nya, dalam hadits qudsi disebutkan bahwa Allah telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Nya.

3. Pandangan kasih sayang, bahwa Allah ta'ala sangat kasih sayang terhadap kaum mukminin, hanya saja kita tidak mengetahui hikmah di balik apa yang telah terjadi, maka poin yang keempat adalah.

4. Pandangan hikmah, bahwa Allah sangat bijaksana dan Maha Bijaksana. Oleh karena itu dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya, "Apakah mungkin seorang ibu akan melemparkan anaknya ke dalam api..?" Maka para sahabat mengatakan, "Tidak mungkin, ia tidak akan tega melemparkannya." Nabi berkata, "Allah lebih sayang kepada para hamba-Nya daripada (kasih sayang) wanita ini kepada anaknya." Maka ketika Allah memberikan musibah kepada hamba-Nya, itu menunjukkan kasih sayang Allah, meskipun kita tidak mengetahui hikmah di balik itu, tetapi Allah sayang kepada para hamba-Nya.

5. Pandangan pujian, yaitu menyaksikan semua musibah yang menimpa kita dengan sanjungan pujian kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu orang-orang sholeh dan orang-orang bertakwa ketika mendapatkan musibah, mereka bergembira memuji Allah karena mereka yakin dengan seyakin-yakinnya jikalau ia ridha dan ia sabar, maka akan menghapus dosa-dosanya dan akan mengangkat derajatnya, dia akan menghadap Allah tanpa dosa dan akan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga.

6. Pandangan ubidiyah, yaitu menyaksikan musibah dengan beribadah kepada Allah. Ibadah saat mendapat kesenangan adalah bersyukur sedangkan ibadah saat tertimpa musibah adalah dengan bersabar. Dengan adanya musibah ini maka Allah menghendaki agar kita bersikap sabar, dan ganjaran bagi orang-orang yang bersabar adalah tanpa hisab, tanpa batasan, tanpa hitungan. Allah ta'ala berfirman, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." [QS. Az-Zumar: 10]

"Ya Rabb, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang zhalim.."

"Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka jangankan engkau sandarkan urusanku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah segala urusanku, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Engkau.."

Allahu a'lam..

——○●※●○——

Esha Ardhie
Selasa, 23 Februari 2016


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 9:05:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan komentar Anda, berbagi pengetahuan dan sudut pandang Anda. Setiap artikel sangat memungkinkan untuk diperbaiki dan dilakukan pengeditan..