Psychology (Diam Adalah Bahasa)

Diam Adalah Bahasa, Psikologi

Diam Adalah Bahasa

Ngecek Google Analytics, ternyata ada yang nyasar ke artikel blog saya (https://eshaardhie.blogspot.com/2015/08/mengenal-dan-menyikapi-sikap-diam.html) dari Google Search dengan keyword "suami diam". Ini bukan tentang SEO dan kawan-kawannya, tapi yang menarik bagi saya adalah, mengapa kata kuncinya begitu singkat, dua kata sederhana namun mengisyaratkan akan peristiwa besar yang sedang terjadi di dalam hatinya. Seperti seorang wanita yang kehabisan kata-kata dan berharap seseorang dapat memahaminya. Bukan..!! Saat itu, ia sedang berharap agar sebuah mesin dapat memahami dirinya dan memberikan jawaban atas dua kata yang sama sekali bukanlah pertanyaan..

Saya jadi teringat sebuah film yang bertema Artificial Intelligence, dimana seseorang terpilih menjadi kandidat untuk melakukan Turing Test, namun bukan semata-mata karena kejeniusan yang dimilikinya, tetapi lebih mengarah kepada kondisi sosial keluarga dan aspek sosialnya di dalam dunia maya; dengan siapa ia berkomunikasi, apa yang ia baca, apa yang ia tonton, dan apa yang biasa ia cari..

Jika engkau sedang berinteraksi dengan sebuah perangkat komputer, namun engkau tidak merasa sedang "berkomunikasi" dengan sebuah mesin, maka itulah yang dinamakan dengan kecerdasan buatan. Ini soal bahasa, bahkan ada yang mengatakan bahwa bahasa adalah pencapaian tertinggi dari umat manusia..

Dengan melihat fenomena tekhnologi yang sekarang, salahkah jika kita mengatakan bahwa, kebutuhan manusia untuk dimengerti oleh mesin jauh lebih mendominasi daripada kebutuhan manusia untuk dimengerti oleh manusia itu sendiri..? Bagaimana tidak, bukankah kita sangat dimanjakan oleh sebuah kaidah yang menyatakan bahwa User tidak pernah salah, jika terjadi kesalahan, maka sistemlah yang telah gagal dalam memahami tingkah laku manusia. Sehingga mesin itu dibahasakan sedemikian rupa agar berfungsi dan dapat digunakan secara optimal. Jadi, apakah manusia lebih membutuhkan dimengerti oleh mesin..? tidak juga. Karena mesin itu justru dibuat oleh orang-orang yang mempelajari tentang karakteristik dari manusianya itu sendiri. Manusia bisa jadi lebih banyak berinteraksi dengan mesin, tapi mesin tidak memiliki apa yang dimiliki oleh manusia, hati. Itulah barangkali yang akan membuat manusia lebih merindukan berinteraksi dengan sesamanya..

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً  ۚ  إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.." [QS. Ar-Rum: 21]

Namun yang menjadi masalah adalah, mengapa sosok yang sama-sama memiliki hati namun di banyak tempat ia tidak bisa saling memahami..? 

Kita seolah-olah berada di dua alam yang berbeda dan seakan-akan keduanya sedang berkomunikasi dengan bahasa yang tidak dapat dipahami oleh satu sama lain. Maka yang kita butuhkan adalah sebuah penerjemah profesional, sebuah kamus psikologi. Kamus yang akan mengartikulasikan setiap kata dan menafsirkan setiap ungkapan..

Kita sama-sama mengetahui bahwa wanita mengungkapkan bahasanya secara ekspresif dan cenderung berlebihan, sedangkan laki-laki lebih suka untuk menafsirkan pembicaraan dan menerjemahkan ungkapan-ungkapan secara leteral. Dalam masalah ini, bukankah sangat tepat jika seorang ahli hikmah berkata, "Kesulitan itu akan menjelaskan hal-hal yang sudah jelas.."

Maka jika engkau bertanya mengapa kaum laki-laki sering terdiam..? Perkenankanlah saya untuk menjawabnya dengan seuntai syair,

"Diam adalah bahasa. Pembicaraan, sesungguhnya hanyalah berada di dalam hati. Sedangkan lisan, digunakan hanya sebagai petunjuk.."

Baca Juga : Kasus Terakhir Sherlock Holmes Dan Kegagalannya Memahami Seorang Wanita

——○●※●○——

Esha Ardhie
Rabu, 29 Juni 2016


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 14.04.00
Please Feel Free to Share