Menjawab Syubhat Menamakan Diri Dengan Salafiyah Adalah Bid'ah

Jawaban Syubhat Penamaan Salafiyyah Adalah Bid'ah

Syubhat, Menamakan Diri Dengan Salafiyah Adalah Bid'ah

Oleh : Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas

Penamaan Salafiyah dianggap sebagai hizbiyyah atau bid'ah, maka ini -demi Allah- termasuk perkataan yang membuat anak kecil tertawa. Mereka mengatakan sesungguhnya menamakan diri dengan Salafiyah adalah bid'ah karena Allah ta'ala berfirman:


هو سمكم المسلمين من قبل وفى هذا


"Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini." [QS. Al-Hajj: 78]


Berhujjah dengan keumuman ayat ini adalah bathil, dan dapat dibantah dari dua sisi; secara mujmal dan secara terperinci:


Adapun secara mujmal : Maka penamaan dari Allah dan Rasul-Nya ini ada sebelum terjadi perselisihan dan perpecahan yang terjadi pada umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana kaum muslimin pada waktu itu adalah umat yang satu. Pada keadaan ini tidak ada nama bagi mereka kecuali "kaum muslimin", atau nama yang telah tetap dalam agama.


Oleh karena itu, pada saat kaum muslimin kembali menjadi umat yang satu, jama'ah yang satu berdasarkan pemahaman Rasulullah shallallahu 'alaihibwa sallam dan para sahabatnya, maka batallah penamaan-penamaan yang ada. Dan barangsiapa tetap memaksa atas satu nama tertentu, maka pada saat itu dikatakan kepadanya, "Apakah engkau hendak memecah-belah jama'ah kaum muslimin?"


Masalah yang lainnya ialah apakah jika kita meninggalkan penamaan dengan Salafiyah ini lantas dengan begitu hizbiyyun akan meninggalkan nama-nama mereka?! Atau akankah mereka mengumumkan berlepas diri dari nama-nama tersebut..?!


Jawabannya: Tidak mungkin.


Jika demikian, bagaimana bisa mereka meminta kita untuk melepaskan nama yang syar'i sedangkan mereka berpegang teguh dengan nama-nama yang Allah tidak menurunkan ilmu tentangnya..??!


Adapun jawaban secara terperinci : Sesungguhnya kata "Muslimin" sekarang ini, yang bermakna ahlul kiblat. Sedangkan ahlul kiblat, maka seluruh firqah sesat menisbatkan diri mereka kepadanya. Semua golongan umat ini telah menyimpang dari jalan yang lurus, kecuali satu golongan -sebagaimana disebutkan dalam hadits mutawatir tentang perpecahan umat- yaitu golongan yang berada di atas jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.


Oleh karena itu, mengumpulkan antara al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat) dengan firqah-firqah yang membinasakan di bawa kalimat "Muslimin" dengan makna sekarang ini -yaitu ahlul kiblat- tidak akan mungkin dapat terbedakan antara ahlul haq dan ahlul bathil, padahal membedakan ahlul haq adalah tujuan syariat, yang datang dari lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau menamakan mereka dengan al-Jama'ah dan al-Ghurabaa' serta menjadikan manhaj mereka sebagai ciri mereka, beliau bersabda:


ما أنا عليه وأصحابي


"(Yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya." [1]


Para ulama Salaf telah memahami maksud Allah ta'ala sehingga mereka memutlakkan untuk al-Firqatun Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah dengan sebutan: Ahlul Hadits dan Salaf. Karena itulah Imam Abu 'Utsman ash-Shabuni rahimahullah menulis kitab "Aqiidatus Salaf Ash-haababil Hadits" dan belum pernah kita dengar dari seorang ulama sepanjang abad dan masa, ada seorang dari mereka yang mengingkari penamaan ini.


Maka memberikan pengertian (definisi) bagi al-Firqatun Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah dengan nama yang syar'i adalah perkara yang disyariatkan. Dan setiap firqah yang sesat mengaku bahwa mereka berada di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah, akan tetapi yang membedakan antara kebenaran dan kebathilan adalah manhaj (metode) dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah itu sendiri.


Menurut al-Firqatun Najiyah, manhaj (metode) tersebut ialah dengan mengikuti pemahaman para sahabat, sedangkan menurut firqah-firqah yang sesat, manhaj (metode) tersebut ialah mengikuti pendiri kelompok mereka, dengan kata lain: menyimpang dari manhaj para sahabat dalam memahami nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah.


Maka tidak mungkin orang yang mendengar perkataan seseorang, "Saya Muslim" dapat dipahami bahwa yang mengatakan itu berada di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Bahkan mungkin ia memahami bahwa seluruh firqah sesat pun bisa dikatakan "Muslim". Sesungguhnya seorang muslim yang berada di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan salafush shalih maka ia dikatakan SALAFI. Oleh karena itulah Imam adz-Dzahabi berkata tentang Imam ad-Daraquthni rahimahullah, "Beliau belum pernah mendalami ilmu kalam, juga tidak mendalami tentang debat, bahkan beliau seorang Salafi." [2]


Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa penamaan dengan Salafiyah adalah disyari'atkan, dan penamaan ini beserta asasnya terhubung dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka setelah itu apakah dikatakan: "Sesungguhnya Salafiyah adalah hizbiyyah..?!"


Tidak mungkin, tidak ada yang mengatakan hal demikian kecuali orang yang bodoh atau seseorang yang terserang penyakit buta warna. Dan kami selalu mengumpamakan perkara ini bahwa Islam yang haq (benar) ialah Islam yang pernah dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya laksana hujjah yang putih bersih -bagaikan kertas yang putih bersih- lantas datang Khawarij dan membuat titik padanya dengan satu warna, lalu datang Rafidhah membuat titik padanya dengan warna lainnya, lalu datang Shufiyah dan membuat titik padanya dengan warna yang lain pula, dan begitulah seterusnya hingga tersisa warna putih di bagian tengahnya. Siapa saja yang melihat pada bagian yang putih tersebut maka ia akan berkata, "Ini adalah satu golongan sesat seperti golongan sesat lainnya," sebab orang ini tidak mengetahui perkara yang sebenarnya. Adapun orang yang meletakkan pandangannya pada keadaan sebelum dipenuhi warna tersebut, maka ia akan mengetahui bahwa warna aslinya adalah putih, dan warna yang ada di sekelilingnya adalah menyimpang (bukan bagian darinya).


Maka kita katakan: Sesungguhnya semua firqah yang sesat telah menyimpang, hanya tersisa al-Jama'ah di atas bagian yang asli ini, yaitu apa yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Maka dari itu, apakah Salafiyah dikatakan hizbiyyah..??!!


Atau apakah Salafiyah memecah belah umat..?! Ataukah ia tetap di atas hujjah yang putih bersih itu, siapa yang menyimpang darinya maka ia akan binasa..??!!


Dari penjelasan di atas, menjadi jelaslah bahwa penamaan dengan Salafiyah adalah penamaan yang disyari'atkan, bukan bid'ah..


Baca Juga : Menjawab Syubhat, Salafiyyin Anti Bicara Politik..?

Catatan :


[1] Hadits Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari sahabat Abdullah bin Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 5343). Lihat Darul Irtiyaab 'an Hadiits maa Ana 'Alaihi wa Ash-haabii oleh Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, cet. Darur Rayah, tahun 1410 H.


[2] Siyar A'laamin Nubalaa' (XVI/457).


——○●※●○——

Sumber : Mulia Dengan Manhaj Salaf, halaman 424-428. Penulis : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit : Pustaka At-Takwa, Cetakan ke-7 Tahun 2013


Disalin ulang oleh : Esha Ardhie

Jum'at, 11 Maret 2016


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 09.24.00
Please Feel Free to Share