Tak Seindah Angan


Pernikahan merupakan salah satu syariat dalam islam yang memiliki tujuan yang teramat mulia. Bukankah separuh agama bisa engkau dapatkan dengannya..? Tetapi pernikahan tidaklah selalu terisi dengan canda tawa kebahagiaan, namun tak jarang seseorang yang hendak menikah yang tergambarkan dalam benaknya hanyalah keindahan-keindahan dalam pernikahan, ibarat seekor ikan yang terhampar ke daratan, tak terbayangkan olehnya kecuali air yang menyejukkan..

Dalam kenyatannya, air yang menyejukkan itu tak selalu tenang, hembusan angin selalu menerpa, tak kadang menciptakan ombak besar yang siap menghantam bahtera kehidupanmu, menerjang hatimu yang dipenuhi kerikil kehampaan. Hal ini sebenarnya telah tergambar dari seuntai doa, doa yang biasa kita ungkapkan kepada seseorang yang menikah, doa apakah itu..?

ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻚَ ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻭَﺟَﻤَﻊَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺧَﻴْﺮ

"Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair."[1] (Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan).

Lalu, apakah maksud dari kalimat "memberi berkah padamu" dan "memberi berkah atasmu", adakah perbedaan antara keduanya..? Secara bahasa indonesia tentu maknanya sama saja, tetapi ini adalah bahasa arab, bahasa yang paling jelas dan paling indah..

'Lam' secara harfiyyah diartikan 'Pada', sedangkan 'Ala' artinya 'Di Atas'. Namun jika kedua kata tersebut bertemu dalam satu kalimat, maka tidak dapat lagi diartikan secara harfiyyah sebagaimana yang telah disebutkan. Maka rahasianya adalah bahwa makna 'Lam' menunjukkan makna yang baik, sedangkan 'Ala' menunjukkan makna yang buruk. Sehingga arti dari doa secara keseluruhan adalah,

“Semoga Allah memberi berkah padamu disaat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu disaat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan."

Doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ini ternyata mengisyaratkan bahwa sesungguhnya rumah tangga tak selamanya tentram dan harmonis. Ada kalanya terjadi percekcokkan, masalah yang merumitkan, harapan yang terkadang tak sesuai. Maka semoga Allah juga memberikan berkah saat terjadi prahara tersebut sebagaimana Allah memberikannya (berkah) disaat kebahagiaan mengisi hati mereka. Semoga kita dapat bersabar dalam menghadapinya..

Allah berfirman,

ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﻓَﻌَﺴَﻰ ﺃَﻥ ﺗَﻜْﺮَﻫُﻮﺍْ ﺷَﻴْﺌﺎً ﻭَﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻓِﻴﻪِ ﺧَﻴْﺮﺍً ﻛَﺜِﻴﺮﺍً

"Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS. An-Nisaa: 19]

Berkata Ibnul Jauzi, “Ayat ini menganjurkan untuk menahan istri (tidak menceraikannya) meskipun sang suami membencinya. Dan ayat ini mengingatkan dua perkara, yang pertama bahwasanya seorang manusia tidak mengetahui mana-mana saja tempat kebaikan. Betapa banyak perkara yang dibenci kemudian membawa kebaikan dan betapa banyak perkara yang dipuji kemudian menjadi perkara yang dicela. Perkara yang kedua bahwasanya seseorang hampir hampir tidak bisa menemukan sesuatu yang disukainya tanpa disertai dengan sesuatu yang dibencinya, oleh karena itu hendaknya ia bersabar atas apa yang dibencinya karena perkara yang dicintainya." [Zaadul Masiir, II/42]

Dalam hadits disebutkan,

ﺍِﺭْﻓَﻖْ ﺑِﺎﻟْﻘَﻮﺍﺭِﻳْﺮِ

“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).”[2]

Dalam Fathul Bari disebutkan, "Para wanita disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho dan tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran) sebagaimana dengan kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan.” [Fathul Bari, X/545]

Suami atau pun istri tentunya memiliki peranan dan tanggung jawabnya masing-masing untuk membangun rumah tangga seperti apa yang telah menjadi tujuan dari pernikahannya, yaitu ketenangan dan kedamaian, sebuah ketentraman hati. Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar-Ruum: 21].

Dan sudah tentu hal tersebut bukanlah perkara mudah, bahkan ada seorang wanita di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang bersumpah tidak akan menikah setelah mengetahui betapa besarnya hak suami yang harus ia tunaikan.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِابْنَةٍ لَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ ابْنَتِي قَدْ أَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَ، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيعِي أَبَاكِ” فَقَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ حَتَّى تُخْبِرَنِي مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَتْ قَرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ”. قَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَنْكِحُوهُنَّ إِلَّا بإذنهن”

"Ada seorang sahabat yang datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama putrinya. ‘Putriku ini menolak untuk menikah’, kata orang itu. Nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Taati bapakmu'. 'Demi Dzat yang mengutus anda dengan membawa kebenaran, saya tidak akan menikah sampai anda sampaikan kepadaku, apa hak suami yang menjadi kewajiban istrinya?', tanya si wanita. Si wanita itupun mengulang-ulang pertanyaannya. Sabda beliau, 'Hak suami yang menjadi kewajiban istrinya, bahwa andaikan ada luka di badan suami, kemudian dia jilati luka itu, dia belum memenuhi seluruh haknya'. 'Demi Dzat yang mengutus anda dengan membawa kebenaran, saya tidak akan menikah selamanya'. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Janganlah kalian menikahkan putri kalian, kecuali dengan izin mereka'."[3]

Tampaklah bahwa pernikahan tak seindah dalam angan, maka persiapkanlah segala sesuatunya dengan ilmu.

Allahu a'lam..
11 Jumadil Awwal 1436
Esha Ardhie

Catatan :

[1] HR. Abu Dawud (no. 2130), at-Tirmidzi (no. 1091), Ahmad (II/381), Ibnu Majah (no. 1905), al-Hakim (II/183) dan al-Baihaqi (VII/148).

[2] HR. Al-Bukhari V/2294 (no. 5856), Muslim IV/1811 (no. 2323), An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro VI/135 (no. 10326).

[3] HR. Ibnu Hibban 4164, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 17122, Al-Hakim dalam Mustadrak 2767, Ad-Darimi dalam Sunannya 3571. Hadis ini dinilai hasan Syuaib al-Arnauth


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 7:52:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan komentar Anda, berbagi pengetahuan dan sudut pandang Anda. Setiap artikel sangat memungkinkan untuk diperbaiki dan dilakukan pengeditan..