Bantahan Telak Untuk Dongeng Flat Earth Konspirasi Bumi Datar (Serial #3) Tentang CGI, Kubah Bumi, Dan Horizon

Bantahan Ilmiah Konspirasi Bumi Datar

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #3) Tentang CGI, Kubah Bumi, Dan Horizon

Bumi itu bulat, tetapi penggemar FE tidak mempercayainya. (Gambar-gambar ilustrasi diambil dari internet)

Oleh : T Djamaluddin [1]
(Profesor Riset Astronomi–Astrofisika, LAPAN)

FB LAPAN menerima banyak pertanyaan dari para penggemar FE (Flat Earth — bumi datar) dengan pola pertanyaan yang hampir sama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menjadi pembenaran bagi dongeng FE. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kompilasi pertanyaan mereka dan jawaban saya. Tulisan ini serial dan akumulasi dari tanya jawab berkait dengan dongeng FE. Jawaban saya upayakan sesederhana mungkin dengan bahasa awam.

Q:  Bukankah foto semua planet dan satelit hanya CGI (Computer Generated Imagery – gambar yang dibuat computer)?

A: Teknologi pembuatan CGI baru ada pada dasawarsa belakangan, sedangkan foto-foto planet sudah diperoleh pada generasi awal penguasaan tentang teleskop dan fotografi. Satelit sudah dikenal sejak 1957. Foto-foto jarak dekat planet-planet diperoleh setelah adanya wahana antariksa antar-planet sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Gambar-gambar simulasi dengan komputer (CGI) hanya digunakan sebagai bagian edukasi publik agar lebih mudah difahami awam, tidak sekadar dengan rumus-rumus, grafik, dan tabel yang hanya difahami para ilmuwan. Sebelum ada CGI, ilmuwan memanfaatkan lukisan ilustrasi dari seniman agar dapat difahami awam.

Q: Bukankah matahari bisa diambil gambar videonya karena memang matahari sangat dekat?

A: Matahari berjarak 150 juta km dari bumi. Diameternya 1,4 juta km. Suhu permukaannya 6000 derajat. Jadi tidak mungkin, matahari dianggap dekat. Foto dan video matahari diperoleh dari teleskop di bumi dan dari satelit yang ditempatkan di antariksa.

Q: Bukankah batas langit berupa dome (kubah) sehingga pelangi berbentuk kurva dan tidak pernah ada yang dapat menembusnya?

A: Langit adalah ruang terbuka di luar bumi yang tidak ada batasnya. Kita mengamatinya seperti kubah karena batas pandang mata manusia ke arah langit, seolah-olah benda-benda langit itu menempel pada bola langit. Pada penyajian posisi benda langit secara astronomi memang digunakan alat bantu bola langit, tetapi itu sesungguhnya hanya penggambaran arah yang dinyatakan dalam derajat, relatif terhadap titik pengamatan. Langit tidak ada batas jaraknya.

Pelangi yang melengkung bukan karena kubah langit. Pelangi tampak melengkung setengah lingkaran juga karena batas pandang mata pengamatnya. Pelangi disebabkan oleh pembiasan dan penguraian warna cahaya matahari dari arah belakang pengamat oleh butir-butir air hujan atau kristal es jauh di hadapan pengamat. Ada sudut tertentu pada butir-butir air hujan atau kristal es yang menyebabkan pembiasan dan penguarian cahaya matahari, sehingga warna yang dihasilkan seolah melingkari titik hubung matahari dan mata pengamat. Titik pusat lingkaran pelangi berada di kaki langit kalau mataharinya berada di kaki langit. Bila mataharinya berada lebih tinggi dari kaki langit, maka titik pusat lingkatan pelangi lebih rendah dari kaki langit. Itu sebabnya tidak terlihat pelangi saat matahari tinggi di langit.

Karena langit tidak ada batasnya, maka roket dapat menembusnya untuk menempatkan satelit di orbitnya.

Q: Bukankah roket dan pesawat ulang alik terbang dalam bentuk kurva juga, tidak tegak lurus ke atas karena akan meledak ketika menabrak dome (kubah langit)?

A: Roket dan pesawat ulang alik akan meluncur sampai ketinggian orbit yang dituju, umumnya di atas 400 km. Roket atau pesawat ulang alik tidak akan meledak (kecuali ada kesalahan teknis) sampai mencapai antariksa karena tidak ada batas atau kubah langit (dome). Pengamat melihatnya terbang melengkung karena efek gravitasi bumi, sehingga lintasannya berbentuk parabola. Seperti halnya kita melempar batu, batu itu akan jatuh dengan lintasan parabola. Kalau dilempar dengan kekuatan yang besar (dengan roket atau pesawat ulang alik), lintasan parabolanya mencapai ketinggian sampai sekitar 400 – 600 km.

Q: Bukankah kalau kita naik pesawat atau balon udara, bumi tampak tidak bergerak?

A: Pesawat atau balon udara bergerak bersama rotasi bumi, karena pesawat dan balon udara tersebut (dan seluruh benda di bumi) terikat dengan gavitasi bumi. Sama halnya anak kecil yang melompat-lompat di kursi kereta akan menganggap kursinya tetap, karena dia bergerak bersama kereta.

Q: Kalau bumi berputar, mengapa jadwal penerbangan bisa pas sesuai jadwal? Apakah laju pesawat sama dgn rotasi bumi dan apakah tempat tujuan pesawat juga berputar? Gak sampe-sampe dong?

A: Pesawat terbang bersama bumi yang berotasi, karena pesawat terikat dengan gravitasi bumi. Jadi, dalam perhitungan jadwal penerbangan dihitung kecepatannya terhadap titik tetap di bumi (seperti halnya menghitung kecepatan kereta api), kemudian dikoreksi dengan beberapa faktor lainnya, antara lain rotasi bumi.

Q: Bukankah gedung dan kapal dilihat dari jauh tidak menghilang ditelan bumi, mereka masih tetap terlihat tetapi kecil? Kalau bumi bulat, maka semakin jauh benda, bukan hanya dia akan terlihat menghilang di bagian kakinya tetapi juga akan terlihat miring ke belakang.

A: Kelengkungan bumi tidak akan terlihat pada jarak pendek. Untuk jarak yang jauh, seperti eksperiment di sungai Bedford sejauh 9,7 km, harus memperhitungkan juga refraksi (pembiasan) atmosfer yang menyebabkan benda yang sudah berada di bawah ufuk tampak lebih tinggi. Refraksi atmosfer juga dipergunakan dalam menghitung terbit dan terbenamnya matahari dan bulan.

Q: Bukankah kalau dilihat dari pesawat, horizon bumi tetap setinggi mata, artinya bumi rata? Kalau bumi bulat, semakin tinggi posisi kita semakin bawah horizon dari bumi.

A: Ketampakan horizon justru menunjukkan bumi kita bulat. Kalau kita naik pesawat, pandangan kita dibatasi oleh horizon (kaki langit). Horizon tetap setinggi mata, karena horizon adalah titik singgung garis pandang dengan bola bumi. Kalau bumi kita datar, maka pandangan kita dibatasan oleh sensitivitas mata, artinya kalau kita mempunyai teleskop canggih, dari atas pesawat kita bisa melihat sampai tepi bumi yang datar tersebut. Tetapi di kejauhan, bila kita naik pesawat terbang, kita tidak bisa melihat hamparan sampai tepi dunia ini.

Ujung Dunia Tepi Dunia
Horizon dilihat dari pesawat terbang
Horizon Dan Kelengkungan Bumi
Horizon tampak karena bumi bulat

Q: Bukankah gravitasi itu tidak ada?

A: Semua benda mengalami gaya gravitasi. Semua benda di bumi tetap melekat di permukaan bumi karena gaya gravitasi bumi. Batu dilempar kembali jatuh, sama halnya dengan satelit dan bulan yang mengorbit bumi, semuanya karena gaya gravitasi bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari karena gaya gravitasi matahari.

Q: Bukahkah tidak ada penerbangan langsung Afrika Selatan ke Australia walaupun di pada bumi bulat mereka hanya berjarak 9 jam? Menurut peta bumi rata, Australia dan Afrika Selatan adalah negara terujung-ujung bumi.

A: Penerbangan lintas kutub selatan memang jarang karena pertimbangan teknis, kemungkinan gangguan pada mesin akibat suhu yang sangat dingin. Namun, bila cuaca memungkinkan, beberapa maskapai melakukan penerbangan lintas kutub Selatan. Misalnya, LATAM Airlains terbang non-stop dari Sydney (Australia) ke Santiago (Amerika Selatan). Air New Zealand juga terbang non-stop dari Auckland (Selandia Baru) ke Buenos Aires (Amerika Selatan). Qantas terbang non-stop dari Sydney (Australia) ke Johannesburg (Afrika Selatan).

Penerbangan Melintasi Antartika

Q: Bukankah sinar matahari dan bulan akan terlihat lebih terang di awan sekitar mereka di bandingkan awan yang lebih jauh. Artinya matahari berada dekat dengan bumi sehingga sinarnya akan terlihat lebih terang terhadap benda di sekitarnya dibandingkan benda yang jauh?

A: Jarak matahari ke bumi sekitar 150 juta km dan jarak bulan ke bumi sekitar 384.000 km. Artinya, kuat cahaya yang sampai ke bumi (termasuk awan) secara umum hampir sama. Mengapa cahaya yang mengenai awan yang dekat lebih terang dari pada awan yang jauh? Penyebabnya bukan lagi pada matahari/bulan, tetapi pada awan sebagai sumber cahaya pantulan. Karena awannya dekat, maka cahaya pantulannya terlihat lebih terang daripada awan yang jauh.

Q: Bukankah gambar sinar matahari menembus awan akan terlihat bersudut dan tidak berupa garis sejajar, yang artinya matahari dekat?

A: Itu bukan bukti matahari yang dekat. Bentuk menyudut yang terpusat pada matahari menunjukkan bahwa berkas cahaya matahari itu lurus dan sejejar, karena mataharinya sangat jauh (150 juta km). berkas cahaya yang luruh yang menembus celah-celah awan tampak menyudut karena pandangan perspektif, sama halnya ketika kita melihat rel kereta api tampak makin menyempit di kejauhan.

Cahaya Matahari Menembus Awan

Q: Bukankah gerhana adalah hoax , sebab jika matahari di belakang bumi dikatakan gerhana bulan, lalu dari mana asal sinar bulan? Jika bulan menutupi matahari ketika gerhana matahari lalu dari mana asal cahaya bulan? Bukankah sinar bulan berasal dari matahari?

A: Gerhana bulan dan matahari adalah akibat konfirgurasi bumi, bulan, dan matahari. Akibat bulan mengelilingi bumi, cahaya yang dipantulkan bulan membentuk ketampakan bulan sabit, bulan setengah, dan bulan purnama. Ketika bulan purnama, posisi bulan segaris dengan matahari dan bumi, maka cahaya matahari yang menuju bulan terhalang oleh bumi. Bayangan bumi pada purnama itulah yang disebut gerhana bulan. Pada saat bulan baru (newmoon), cahaya bulan tidak tampak, karena bagian yang tersinari menghadap matahari. Ada saatnya, bulan baru itu segaris dengan matahari dan bumi. Akibatnya, cahaya matahari yang menuju bumi terhalangi. Matahari akan terlihat gelap sebagian atau seluruhnya. Itulah yang disebut gerhana matahari.

Terjadinya Gerhana

Q: Bukankah astronot tidak ada, dulu mereka memakai tangki air, sekarang memakai CGI (Gambar buatan computer)?

A:  Astronot benar adanya, baik yang pernah mendarat di bulan maupun yang saat ini bekerja di laboratorium antariksa ISS. Astronot di dalam tangki air adalah saat latihan mensimulasikan gerak di antariksa. CGI astronot hanya ada dalam pembuatan film.

Q: Ketika astronot NASA mendarat di bulan, mengapa gambar bumi hanya sebesar bulan? Bukankan bumi empat kali  lipat lebih besar? Harusnya ketika mereka di bulan, maka gambar bumi akan tampak lebih besar?

A: Ukuran "besar" atau "kecil" adalah ukuran relatif. Gambar bumi yang tidak dilihat dengan ukuran sama ketika melihat bulan bisa menimpulkan kesan seolah ukurannya sama. Mestinya ukuran ketampakan bumi dan bulan sama-sama dibandingkan dengan objek yang sama besarnya pada jarak yang sama. Misalnya, bumi dan bulan sama-sama dipotret dengan pembanding ballpen yang dipegang sejauh bentangan lengan, kita akan melihat gambar bumi empat kali lebih besar dibandingkan bulan. Di astronomi dikenal ukuran derajat untuk menggambarkan besar objek langit. Bulan itu terlihat dari bumi besarnya sekitar 0,5 derajat, mestinya bumi terlihat dari bulan besarnya sekitar 2 derajat.

Q: Sejak zaman dahulu sampai sekarang, gambar bumi hanya itu-itu saja tidak berubah. Ketika mereka merilis gambar bumi sedang berputar, mengapa awannya tetap tidak bergerak?

A: Awan bergerak karena dinamika atmosfer yang skala waktunya minimal 10-menitan agar bisa melihat pergerakannya. Misalnya, citra satelit Himawari yang bisa menampilkan pergerakan awan setiap 10 menit. Gambar atau video bumi berputar hanyalah simulasi dari waktu 24 jam dimampatkan menjadi beberapa menit saja, sehingga pergerakan awan tidak dapat terlihat.

Baca Juga : Profesor Lapan VS Flat Earthers (Serial #2) — Jawaban Untuk Penggemar Dongeng Bumi Datar

——○●※●○——

Esha Ardhie
Sabtu, 07 Januari 2017

Tulisan serial lainnya seputar bumi datar dapat disimak pada halaman berikut, Mengupas Kebohongan Teori Konspirasi Bumi Datar.

[1] Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng Flat Earth Bumi Datar Serial #3 — https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 07.06.00
Please Feel Free to Share