Yang Datang Lebih Baik Daripada Yang Pergi

Yang Datang Lebih Baik Daripada Yang Pergi

Yang Datang Lebih Baik Daripada Yang Pergi

Mendapatkan sesuatu dan kehilangan sesuatu. Bahagia dan kesedihan, itulah dua hal yang secara umum menapaki perasaan kita dalam menjalani kehidupan..

Ada sebuah ungkapan mengatakan, "Kesedihan adalah fenomena alami, kebahagiaan adalah sebuah kesan". Perkataan tersebut mengisyaratkan bahwa sifat dasar manusia adalah menetapi kesedihan, selalu tidak puas, dan menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya. Dan kebahagiaan adalah sebuah kesan, suatu keadaan yang dapat menghalau segala kesedihan dalam hati..

> Prinsip Sederhana Dalam Hidup

Bahagia selama-lamanya di dunia hanyalah kisah yang terdapat dalam negeri-negeri dongeng. Nyatanya, menghadapi kesedihan bukanlah hal yang mudah, hati yang terluka bukanlah sesuatu yang sederhana, sebagimana ungkapan "Tidak ada yang bisa mengobati hati yang terluka, yang mereka butuhkan hanyalah waktu"..

Dalam menghadapi hal tersebut, ada sebuah prinsip yang menyatakan, "Yang datang lebih baik daripada yang pergi". Dalam contoh, ada seseorang yang datang untuk ta'aruf tetapi tidak sampai khitbah, atau telah ada khitbah namun tak sampai pernikahan, atau telah menikah namun terjadi perceraian. Maka, yakin saja apa yang pergi saat itu tidak lebih baik dengan apa yang akan datang nanti insyaallah..

Yang datang dan yang pergi tak harus berbentuk barang atau dalam wujud seseorang, tetapi keadaan pun dapat dikatakan datang dan pergi, misalnya kita kehilangan nikmat sehat dan sakit pun menghampiri tubuh kita. Maka yakin saja bahwa sakit yang datang itu lebih baik daripada kondisi sehat yang tak lagi bersama kita..

Namun untuk menerapkan prinsip tersebut dibutuhkan syarat, karena bagaimana kita bisa yakin bahwa yang terjadi pada diri kita sekarang adalah yang baik dan yang terbaik bagi kita? Maka perhatikanlah hadits berikut..

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.." [HR. Muslim]

Apabila kita merasa bahagia dan bersyukur, maka itulah yang baik dan yang terbaik bagi kita. Jika kita bersedih dan kita bersabar, maka itu adalah yang baik dan yang terbaik bagi kita. Itulah syaratnya agar yang datang, lebih baik daripada yang pergi..

Apa yang ada bersamamu, bersabarnya dengannya. Apa yang meninggalkanmu, relakan dan ikhlaskanlah kepergiannya..

> Kesabaran Dan Keridhoan

Ibnu Taimiyah berkata, "Kesabaran yang baik ialah yang tidak disertai pengaduan, pengampunan yang baik ialah yang tidak disertai celaan, dan penghindaran yang baik ialah yang tidak disertai ucapan yang menyakitkan.."

Sabar bukan berarti tidak bersedih atau tidak mengalami rasa sakit. Sabar adalah menahan jiwa dari rasa tidak puas dengan disertai rasa sakit, menginginkan rasa sakit itu hilang, dan menahan organ tubuh dari mengerjakan hal-hal yang merupakan tuntutan keluh-kesah. Di dalam kesabaran terdapat kebaikan yang banyak bagi pelakunya, karena Allah azza wa jalla telah memerintahkan dan menyediakan pahala yang melimpah baginya..

Allah ta'ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.." [QS. Az-Zumar: 10]

Sabar berbeda dengan ridha, sabar adalah kewajiban bagi setiap muslim sedangkan ridha adalah keutamaan yang disunnahkan. Ridha merupakan tingkatan yang paling tinggi tentang penerimaan seorang hamba terhadap Rabbnya. Ridha adalah kelapangan jiwa terhadap qadha dan tidak menginginkan sakit yang menyertainya itu hilang..

Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Ridha itu berat sekali, namun sabar adalah pegangan seorang mukmin.." [Hilyatul Auliya, 5/376]

Allah ta'ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.." [QS. At-Taghabun: 11]

'Alqamah berkata, "Musibah tersebut adalah musibah yang menimpa seseorang, kemudian ia mengetahui bahwa musibah tersebut berasal dari Allah, lalu ia menerima dan ridha dengannya.." [Lihat Tafsir Ath-Thabari (12/116 no. 34194-34197) dan Tafsir Ibnu Katsir, (8/137-138) tahqiq Sami Salamah]

> Persinggahan Dalam Kesedihan

Kesedihan bukanlah suatu pemberhentian yang baik, tidak ada manfaat, dan bukanlah sesuatu yang disyariatkan. Tetapi bagaimana pun, kesedihan ini adalah fitrah yang tidak bisa kita hindari, karena dunia ini adalah kelelahan yang terus menerus dan kesedihan yang tiada akhir, maka penduduk surga pun berucap ketika memasukinya..

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ

"Dan mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan hati dari kami'." [QS. Fathir: 34]

Ini menunjukkan bahwa satu-satunya tempat yang tidak ada kesedihan di dalamnya hanyalah surga. Dan ini pun menunjukkan bahwa dahulunya mereka (penduduk surga) pernah mengalami kesedihan hati selagi di dunia sebagaimana mereka ditimpa musibah-musibah lainnya tanpa mereka kehendaki. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersedih dan menangis ketika beliau kehilangan putranya..

Anas bin Malik berkata,

أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - دَخَلَ عَلَى ابْنِهِ إبْرَاهيمَ - رضي الله عنه - ، وَهُوَ يَجُودُ بِنَفسِهِ ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رسولِ الله - صلى الله عليه وسلم - تَذْرِفَان . فَقَالَ لَهُ عبدُ الرحمانِ بن عَوف : وأنت يَا رسولَ الله ؟! فَقَالَ : ( يَا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ )) ثُمَّ أتْبَعَهَا بأُخْرَى ، فَقَالَ : (( إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ )

"Rasulullah masuk (di rumah ibu susuan Ibrahim) menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pun mengalirkan air mata. Abdurrahman bin 'Auf berkata, 'Engkau juga menangis wahai Rasulullah?'. Maka Nabi berkata, 'Wahai Abdurrahman bin 'Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)'. Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, 'Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhai oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim'." [HR. Al-Bukhari]

Dalam hadits pun disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), keletihan, kekhawatiran (pada pikiran), kesedihan (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.." [HR. Bukhari dan Muslim]

Ini menunjukkan bahwa semua itu merupakan musibah yang ditimpakan Allah kepada para hamba-Nya agar dengan itu Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya, namun bukan untuk menunjukkan bahwa kesedihan merupakan sesuatu yang dituntut atau diharuskan..

Pada dasarnya, bukan berarti manusia itu tidak bersedih, menangis, atau pun bergembira, namun hendaknya kita menyikapi segala musibah atau nikmat yang kita terima dengan sewajarnya dan tidak berlebihan..

فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati.." [QS. Al-Baqarah: 38]

Allahu a'lam..

Baca Juga : Ukhti, Mengapa Memilih Yang Baik Agamanya..?

——○●※●○——

Esha Ardhie
Minggu, 31 Mei 2015


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 19.40.00
Please Feel Free to Share