Bermazhab Syafi'i, Kenapa Ritual Kirim Al-Fatihahnya Untuk Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Yang Bermazhab Hanbali..?

Blognya Esha Ardhie (179)

Kirim Fatihah Buat Abdul Qadir Jaelani Atau Imam Asy-Syafi'i..?

Oleh Ustadz Ahmad Sarwat

Pertanyaan : 

Assalamu'alaikum War. Wab.

Yang terhormat Ustadz Sarwat, saya sering mengikuti acara tahlilan ketika ada orang yang wafat di lingkungan masyarakat saya. Kebetulan saya seorang Nahdliyyin.

Pada pembukaan acara tahlilan suka dimulai dengan pengiriman surat Al-Fatihah buat orang-orang muslim yang sudah wafat dan salah satunya dikhususkan buat Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.

Saya belum tahu mengapa beliau dikhususkan..? Apa saja jasa-jasa beliau buat kaum Nahdliyyin..? Sejauh yang saya tahu beliau bukan pengikut mazhab syafi'i.

Menurut saya yang seharusnya dikhususkan itu Imam Syafi'i karena tentu saja beliau sangat berjasa buat kaum Nahdliyyin.

Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu'alaikum War. Wab.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Urusan hukum mengirim pahala bacaan surat Al-Fatihah akan kita bahas dalam kesempatan lain. Di dalam tulisan ini kita akan khususkan jawaban sesuai dengan pertanyaan dari penanya, yaitu kenapa orang-orang banyak kirim pahala bacaan surat Al-Fatihah kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dan bukan kepada Al-Imam Asy-Syafi'i.

Jawaban singkatnya, karena di kalangan sebagian pelaku tariqat, yang menjadi tokoh dalam dunia mereka memang Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, ketimbang Al-Imam Asy-Syafi'i. Walau pun mereka bermazhab Asy-Syafi'i, namun kirim-kiriman pahala bacaan Al-Fatihah lebih merupakan aktifitas tariqah ketimbang praktek fiqih.

Kebetulan juga, banyak di antara warga Nahdliyyin yang secara fiqih bermazhab Syafi'i, tetapi ketika tahlilan dan kirim pahala bacaan Al-Fatihah, sebenarnya mereka sedang menjalankan ritual tariqat yang mereka anut. Tentu tidak semua warga Nahdliyyin seperti itu.

Sebab di dalam kitab-kitab fiqih Asy-Syafi'iyah, kita justru tidak menemukan perintah-perintah untuk mengadakan tahlilan dan kirim-kiriman pahala.

Bahkan konon ada yang menyebutkan bahwa Al-Imam Asy-Syafi'i sendiri termasuk yang menolak bisa disampaikannya pahala bacaan Al-Quran kepada ruh orang yang sudah meninggal. Tentu kebenaran hal ini masih perlu ditahqiq lagi, sejauh mana kebenarannya.

A. Kerancuan Antara Ilmu Fiqih Dan Tariqat/Tasawuf

Inilah salah satu fenomena yang menarik untuk kita bahas. Banyak orang tidak bisa membedakan antara fiqih mazhab Asy-Syafi'iyah dengan praktek keagamaan tasawuf dan thariqat yang banyak dijalankan oleh masyarakat.

Sebagian dari masyarakat kita ini menjalani kehidupan bertasawuf atau berthariqat dengan aliran tertentu. Dan kebetulan basis dasar aliran fiqihnya bermazhab Asy-Syafi'i, karena Islam di Indonesia rata-rata disebarkan oleh para ulama yang bermazhab Asy-Syafi'i.

Sehingga antara ajaran dari aliran tasawuf dengan mazhab fiqih As-Syafi'i di dalam kaca mata orang-orang awam seringkali tertukar-tukar dan bercampur-aduk sedemikian rupa. Tidak jelas lagi mana yang berdasarkan fiqih mazhab Asy-Syafi'iyah, dan mana yang thariqat sufisme.

Tentu kita memang tidak bisa menyalahkan masyarakat yang rata-rata awam. Bahkan mazhab fiqih dan aliran tasawuf pun sebenarnya tidak tahu persis apa bedanya. Yang mereka tahu, gurunya mengajarkan sesuatu, maka mereka pun ikut saja.

Dan ketika dikatakan bahwa kita ini bermazhab Asy-Syafi'i, mereka pun mengiyakan begitu saja. Tidak tahu yang dimaksud dengan mazhab Asy-Syafi'i itu apa, seperti apa ruang lingkupnya, serta dalam hal apa kita bermazhab Asy-Syafi'i.

Lucunya, justru kadang yang melekat di benak khalayak tentang mazhab Asy-Syafi'i malah penampilan fisiknya. Lapisan masyarakat yang sarungan, pakai peci, surban ikat kepala, dan kebetulan mazhab fiqihnya Asy-Syafi'i, lantas dibuatlah semacam pengertian bahwa mazhab Asy-Syafi'i adalah mereka yang suka pakai sarung dan peci. Sebuah pengertian yang tentu saja amat sangat salah kaprah.

Demikian juga, ketika di masjid ada orang yang berdzikir dengan suara keras sehabis shalat jamaah, kalau doa pakai diamin-aminkan oleh jamaah, dan kebetulan latar belakang mazhab fiqih mereka adalah Asy-Syafi'iyah, lantas dianggap bahwa mazhab Asy-Syafi'i adalah mereka yang kalau dzikir dengan suara keras di masjid.

Dan sebagaimana yang Anda sebutkan, kalangan yang suka mengadakan acara selametan, tahlilan, dzikir berjamaah, istighatsah, ziarah kubur dan sejenisnya, juga sering disebut-sebut sebagai bermazhab Asy-Syafi'i.

Sebenarnya klaim seperti ini tidak salah-salah amat. Sediki-sedikit memang ada benarnya, tetapi lebih banyak kurang tepatnya. Tahlilan, selametan dan kirim-kiriman pahala buat ruh dari orang yang sudah wafat, memang termasuk ciri masyarakat muslim di Indonesia. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa secara basic fiqih, bangsa muslim kita ini bermazhab Asy-Syafi'i. Namun meski demikian, sebenarnya kalau kita teliti lebih dalam, semua praktek itu tidak datang dari pengaruh ilmu fiqih, apalagi mazhab Asy-Syafi'i.

Sebab kalau kita cari rujukannya dalam kitab-kitab turats mazhab Asy-Syafi'iyah, kita malah tidak menemukan perintah atau anjuran untuk hal-hal seperti itu.

Misalnya tentang kebiasaan mengirim pahala bacaan surat Al-Fatihah kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani, kita bisa runutkan asal muasalnya justru dari ragam corak thariqat dan tasawuf yang berkembang.

Tetapi sebenarnya keduanya terjadi secara kebetulan saja. Kadang secara tidak sengaja terjadi irisan di antara dua lingkaran yang berdekatan. Walaupun aslinya antara tradisi dengan mazhab Asy-Syafi'i tidak selamanya seiring sejalan dengan thariqat sufiyah. Ada wilayah dimana mazhab Asy-Syafi'i sebenarnya tidak berkesesuaian dengan thariqat sufiyah itu. Sebagaimana tidak semua fenomena tradisi dalam thariqat itu sejalan dengan mazhab Asy-Syafi'i.

Tradisi mengadakan selametan dan tahlian, lalu ada ritual untuk mengirim pahala kepada ruh orang yang sudah wafat, termasuk kepada ruh dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani, tentu bukan datang dari mazhab Asy-Syafi'iyah. Kita tidak akan menemukan hal itu di dalam kitab-kitab fiqih mazhab Asy-Syafi'iyah.

Sebagaimana mazhab Asy-Syafi'i tidak pernah memerintahkan kita untuk kita berpenampilan pakai sarung, peci dan baju koko. Juga tidak mengharuskan doa dan dzikir keras-ketas pakai pengeras suara di masjid.

Kalau saya katakan bahwa mazhab Asy-Syafi'i tidak memerintahkan hal itu, memang belum tentu juga melarang atau mengharamkan. Tetapi yang pasti, datangnya perintah itu bukan dari fiqih mazhab Asy-Syafi'i.

B. Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani

Adapun bertawassul kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani, merupakan aktifitas pada penggiat thariqah dan tasawuf. Dalam pandangan mereka, kita dibolehkan atau dianjurkan untuk mengirim pahala bacaan Quran, dzikir, tahlil dan seterusnya kepada para ulama. Salah satunya yang paling masyhur memang kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani itu.

Tetapi sekedar untuk diketahui, Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani sendiri secara mazhab fiqihnya malah bukan dari kalangan mazhab Asy-Syafi'i. Mazhab fiqih beliau malah Hanbali, bahkan beliau termasuk tokoh fiqih dalam mazhabnya.

Bahkan beliau sebenarnya juga bukan tokoh dalam dunia thariqat. Sebab kalau kita melihat kepada karya-karyanya dan juga murid-muridnya, malah lebih dominan karya yang lain. Sebagai sebuah perbandingan saja, ternyata Ibnu Qudamah yang merupakan tokoh ulama besar di dalam mazhab Al-Hanabilah, penulis kitab Al-Mughni dan Raudhatun-Nadzhir, adalah salah satu dari murid Abdul Qadir Al-Jilani. Tentu bukan murid di bidang tariqah, melainkan murid dalam bidang ilmu fiqih.

Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana ceritanya tokoh ulama fiqih, tiba-tiba bisa berubah sosoknya menjadi tokoh dalam dunia sufistik, bahkan terkesan menjadi tokoh ghaib punya ajian sakti mandraguna?

Kemungkinan besarnya memang banyaknya cerita yang terlanjur beredar di tengah masyarakat tentang kemuliaan dan karamah beliau. Dan kisah-kisah itu kemudian menjadi bahan baku utama untuk membakar semangat para aktifis sufisme dan ribuan aliran thariqat yang banyak tumbuh di seantero jagad dunia Islam.

1. Siyar A'lam An-Nubala 

Penulis kitab Siyar A'lam An-Nubala, Adz Dzahabi, menyebutkan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani seorang yang kisah hidupnya banyak diplintir. Maka banyak riwayat perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib.

Terdapat banyak kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau." [Siyar XX/451]

2. Manaqib Abdul Qadir Jilani

Al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dalam tiga jilid kitab. Judul asli Kiab itu cukup panjang, yaitu Bahjatu Al-Asraar wa Ma’dinu Al-Anwar fi Ba’di Manaqib Al-Quthb Ar-Rabbani Abdul Qadir jailani.

Barangkali dari kitab semacam inilah lahir sosok Abdul Qadir Al-Jilani sebagai tokoh besar dalam dunia tariqat dan sufisme. Sosoknya tidak lagi dikenal sebagai ulama fiqih, tetapi malah sebagai sosok wali keramat dan digjaya penuh dengan beragam kesaktian.

Tentu saja banyak kalangan yang menuduh penulisnya berdusta. Bahkan ada yang bilang bahwa penulisnya sama sekali tidak pernah bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya).

3. Adz-Dzail Ala Thabaqat Al-Hanabilah

Dalam mengomentari kitab kontroversial di atas, Ibnu Rajab Al-Hambali menegaskan :

"Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini.

Lihat Ibnu Rajab, Adz-Dzail Ala Thabaqaat Al-Hanabilah, jilid 1 hal. 290

Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama, akal, kesesatan dan klaim serta perkataan batil yang tidak terbatas. Misalnya kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dikaitkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."

Seimbang Dalam Menilai

Ketika menilai sosok Syeikh Abdul Qadir Jailani, terutama mengenai karamah yang dinisbatkan kepadanya, umat Islam agak kurang kompak. Ada yang mencela, ada yang mendukung dan ada yang bersikap lebih objektif.

1. Menolak Dan Mencela

Mereka mencela Syeikh Abdul Qadir Jailani dan menyifatinya dengan Dajjal. Mungkin yang menyebabkan mereka bersikap demikian karena adanya karamah dusta dan riwayat yang tidak benar yang dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Jailani. Di antara mereka adalah Ali bin Muhammad Al-Qirmani.

2. Mendukung Sepenuhnya

Kelompok kedua kebalikan dari kelompok pertama. Mereka cinta dan fanatik kepada Syeikh Abdul Qadir Jailani. Semua riwayat yang diceritakan tentangnya atau yang dinisbatkan kepadanya, diterima bulat-bulat dan mentah-mentah, walaupun ditolak syariat dan diingkari akal. Di antara mereka adalah Ali bin Yusuf Asy-Syathnufi.

3. Objekif

Di tengah-tengah kedua kelompok yang mencela dan mendukung, ada satu lapisan yang agak netral. Kelompok ini mengambil sikap tengah-tengah, di satu sisi menerima karamah Syeikh Abdul Qadir Jailani yang benar dan dinukil dengan penukilan yang kuat, yang tidak bertentangan dengan syariat, dan sisi lain juga menolak yang tidak memenuhi kriteria itu. Di antara mereka adalah Imam Adz-Dzahabi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

[Sumber : Rumahfiqih.com]


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 5:15:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan komentar Anda, berbagi pengetahuan dan sudut pandang Anda. Setiap artikel sangat memungkinkan untuk diperbaiki dan dilakukan pengeditan..