Dua Saksi Yang Paling Adil


Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Boleh jadi pada hari-hari tertentu hatiku disusupi satu titik dari kebiasaan manusia. Tapi aku tidak akan menerimanya kecuali dengan menghadirkan dua saksi yang adil, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah."

Riwayat di atas mengabarkan kepada kita agar kita senantiasa menimbang segala sesuatunya, setiap perbuatan dan setiap keadaan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Begitupun dalam hal kebiasaan atau adat istiadat, jika bersesuaian maka hal tersebut dapat diterima dan dijalankan, tetapi jika kebiasaan atau adat istiadat itu bertentangan dengan Al-Qur'an maupun As-Sunnah maka sudah selayaknya kita tinggalkan meskipun banyak orang yang melakukannya.

Karena tugas kita bukanlah untuk melihat banyaknya pengikut dan mengikuti kebanyakan orang, tetapi yang diperintahkan kepada kita adalah agar kita senantiasa mengikuti satu orang, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Banyaknya orang atau pun pengikut bukanlah patokan dan ukuran kebenaran, dalilnya adalah firman Allah ta'ala:

ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻙَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻳَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﺇِﻻ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻭَﺇِﻥْ ﻫُﻢْ ﺇِﻻ ﻳَﺨْﺮُﺻُﻮﻥَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS. Al-An'am: 116]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata mengenai ayat di atas:

“Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir Al-Karimur Rahman: 1/270]

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Kamu jangan merasa rendah diri karena menempuh jalan yang benar walaupun sedikit orang yang menempuhnya, dan kamu jangan tertipu dengan yang bathil walaupun banyak orang yang mengamalkannya.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Orang yang berakal sehat jangan tertipu dengan kebanyakan manusia, karena kebenaran tidak ditentukan karena banyak orang yang berbuat, akan tetapi kebenaran adalah syariat Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lalu dengan apa seseorang dapat menimbang bahwa sesuatu itu bersesuaian atau bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah..? Yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah dengan ilmu.

Ilmu adalah penentu yang membedakan antara keraguan dan keyakinan, membedakan yang lurus dan yang menyimpang, pembeda antara petunjuk dan kesesatan. Dengan ilmu dapat diketahui berbagai macam syariat dan hukum, membedakan antara yang halal dan yang haram. Dengan ilmu, keridhaan Allah dapat diketahui dan menghantarkan seseorang kepada tujuan. Ilmu merupakan imam dan amal merupakan makmum, ilmu merupakan pemimpin dan amal merupakan pengikut.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan tentang ilmu dan keadaan, beliau berkata:

"Ilmu lebih baik dari keadaan. Ilmu merupakan penentu hukum dan keadaan yang diberi ketentuan hukum. Ilmu merupakan petunjuk dan keadaan yang mengikutinya. Ilmu adalah yang memerintah dan melarang, sedangkan keadaan yang menerima perintah dan larangan.

Keadaan merupakan pedang, yang jika tidak diikuti ilmu akan menjadi pembabat di tangan orang yang suka bermain-main. Keadaan merupakan kendaraan yang tidak bisa berjalan sendiri, jika tidak disertai ilmu maka ia berjalan ke tempat yang merusak. Keadaan seperti harta yang bisa berada di tangan orang baik atau orang jahat, jika tidak disertai cahaya ilmu maka ia akan menjadi bencana bagi pelakunya."

Imam Asy-Syatibi rahimahullah menuturkan:

"Aku dihadapkan kepada dua pilihan. Aku tetap mengikuti sunnah tetapi menyelisihi adat kebiasan manusia. Maka aku pasti mengalami apa yang dialami oleh siapa saja yang menyelisihi adat kebiasaan. Apalagi mereka menganggap adat yang mereka lakukan itu adalah sunnah. Jelas, hal itu merupakan beban yang berat, namun di dalamnya tersedia pahala yang besar. Atau aku mengikuti adat kebiasaan mereka tetapi menyelisihi sunnah dan Salafush-Shalih. Maka aku pun dimasukkan ke dalam golongan orang-orang sesat, wal iyadzu billah. Hanya saja, aku dipandang telah mengikuti adat, dipandang sejalan dan bukan orang yang menyelisihi. Maka aku lihat, bahwa hancur karena mengikuti sunnah adalah jalan keselamatan. Sesungguhnya manusia itu tidak ada gunanya bagiku nanti di hadapan Allah."

Mari kita perhatikan lagi kalimat Imam Asy-Syatibi berikut, "Apalagi mereka menganggap adat yang mereka lakukan itu adalah sunnah", yang menunjukkan bahwa mereka (masyarakat) pada zaman beliau telah melakukan amalan yang mereka anggap Sunnah tetapi sebenarnya bukanlah Sunnah, tetapi justru bertentangan dengan Sunnah. Maka di sinilah tampak bahwa kita sangat membutuhkan ilmu yang akan membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Itulah tipu daya Iblis dalam mengelabui orang-orang bodoh, mencampur-adukkan yang benar dan yang salah, menampakkan yang salah seolah benar dan yang benar seolah salah. Dan sungguh menggetarkan hati perkataan beliau bahwa hancur karena mengikuti sunnah adalah jalan keselamatan. (Mengenai hal ini dapat juga disimak artikel Lebih Besar dari Dosa Syirik : Mengada-adakan terhadap Allah Tanpa Dilandasi Ilmu)

Hukum Asal Adat Kebiasaan Adalah Boleh

Jika kita tinjau kembali kepada masalah adat kebiasaan, maka hukum asalnya adalah boleh.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan:

والأصل في عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة

“Hukum asal adat kita adalah boleh selama tidak ada dalil yang memalingkan dari hukum bolehnya.“

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَأَمَّا الْعَادَاتُ فَهِيَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ فِي دُنْيَاهُمْ مِمَّا يَحْتَاجُونَ إلَيْهِ وَالْأَصْلُ فِيهِ عَدَمُ الْحَظْرِ فَلَا يَحْظُرُ مِنْهُ إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Adat adalah kebiasaan manusia dalam urusan dunia mereka yang mereka butuhkan. Hukum asal kebiasaan ini adalah tidak ada larangan kecuali jika Allah melarangnya."

Bahkan dalam kaidah fiqih, 'urf atau adat kebiasaan itu dapat dijadikan hukum, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qawaid Al-Khamsah Al-Kubra, yaitu kaidah tersebut termasuk dalam salah satu dari lima kaidah besar; yaitu merupakan kaidah dasar atau pondasi dari kaidah-kaidah lainnya.

Kaidah tersebut berbunyi:

ﺍﻟﻌُﺮْﻑُ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺩَﺓُ ﻳُﺮْﺟَﻊُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺣُﻜْﻢٍ ﺣَﻜَﻢَ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﺭِﻉُ , ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺤُﺪَّﻩُ ﺑِﺤَﺪٍّ

'Urf dan adat (kebiasaan) dijadikan pedoman pada setiap hukum dalam syariat yang batasannya tidak ditentukan secara tegas.

Adat menurut bahasa artinya cara atau kelakuan atau sikap yang sudah menjadi kebiasaan. Sedangkan menurut istilah agama, para ulama berbeda dalam mendefinisikannya, di antara definisinya adalah bahwa adat merupakan perkara yang terulang-ulang dan dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat.

Sedangkan adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari satu generasi ke generasi lain sebagai warisan, sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat.

Adat mencakup kebiasaan individu dan kebiasaan orang banyak, sedangkan istilah 'urf hanya dipakai untuk menunjukkan kebiasaan orang banyak saja dan tidak mencakup kebiasaan individu. Tetapi keduanya dijadikan sebagai penentu hukum dalam kaidah yang dimaksud.

Allah ta'ala berfirman:

ﻭَﻟَﻬُﻦَّ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf." [QS. Al-Baqarah: 228]

ﻭَﻋَﺎﺷِﺮُﻭﻫُﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ

"Dan bergaullah dengan mereka secara ma'ruf." [QS. An-Nisa': 19]

Sebagian ahli tafsir menafsirkan kalimat "Bil ma'ruf" dalam dua ayat di atas dengan kalimat "Sesuai adat dan kebiasaan yang berlaku di tempat dan waktu suami dan isteri berada. Suami memperlakukan isteri dengan baik, sesuai dengan adat yang dikenal dan berlaku di masyarakat, demikian sebaliknya perlakuan isteri kepada suami." [Fathul Qadir, 1/351]

Contoh lain misalnya kita menemukan uang 100 Rupiah, lantas apakah kita mengambilnya lalu menyerahkan ke kantor polisi agar diketemukan pemiliknya..? Atau kita umumkan sendiri di pasar-pasar atau di media-media tentang barang temuan tersebut..? Tentu hal tersebut tidak perlu kita lakukan, bahkan kita boleh mengambil dan memanfaatkannya tanpa harus diumumkan terlebih dahulu selama setahun. Mengapa..? Karena uang 100 Rupiah itu adalah sesuatu yang remeh atau kecil nilainya, sehingga pemiliknya pun tak memberi perhatian kepadanya.

Syaikh Abdul Adzim Badawi hafidzahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mendapat makanan di jalan, maka ia boleh memakannya, dan jika mendapatkan sesuatu yang remeh/kurang bernilai, yang tidak berkaitan erat dengan jiwa orang lain, maka boleh memunggutnya dan memilikinya."

Bagaimana kita menilai sesuatu itu remeh atau tidak remeh nilainya..? Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah mejelaskan salah satu tolak ukurnya, “Jika hilang, maka pemiliknya biasanya tidak berusaha mencarinya dan tidak menaruh perhatian padanya."

Kita mengetahui tolak ukur tersebut adalah dengan dengan 'urf ataupun adat kebiasaan yang berlaku pada waktu itu, karena zaman sekarang uang tersebut sudah tentu dianggap remeh oleh masyarakat kita. Tetapi zaman dahulu bisa jadi uang 100 Rupiah dianggap sebagai harta berharga, dan hukum memilikinya tentu berbeda lagi. Ini adalah salah satu contoh bahwa kebiasaan itu dapat dijadikan patokan dalam menetapkan sebuah hukum.

Namun ada juga contoh-contoh adat kebiasaan yang ternyata telah menyimpang dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah, yaitu misalnya jika terjadi suatu bencana pada suatu daearah maka para penduduknya menyembelih hewan tertentu untuk menghilangkan musibah atau bencana yang terjadi, yang sembelihannya tersebut ditujukan kepada selain Allah, atau ada juga yang sembelihannya "disedekahkan" ke laut, dan sebagainya. Atau misalnya yang lain lagi bahwa orang-orang membuat sesuatu yang mereka sebut sebagai "penangkal hujan" saat diadakannya perayaan atau pesta-pesta agar hujan tidak turun karena hujan tersebut dianggap dapat mengganggu jalannya acara. Tidak dipungkiri lagi bahwa dua contoh di atas masih marak sebagai suatu adat pada sebagian masyarakat, khususnya pada negeri kita yang tercinta ini. Dan hal tersebut sudah seharusnya ditinggalkan karena adat semacam itu mengandung kesyirikan yang dapat membatalkan keimanan seseorang.

Jadi pada intinya, 'urf adalah apa yang dilakukan oleh banyak orang. Tetapi jika 'urf atau adat/kebiasaan tersebut ternyata bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka banyaknya orang yang melakukan itu tidak dapat dijadikan standar kebenaran, karena kebenaran adalah apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya.

Abu Yazid berkata, "Pernah terlintas dalam hatiku untuk memohon kepada Allah agar aku terbebas dari perhatian terhadap wanita. Namun, kemudian aku berkata sendiri, 'Bagaimana mungkin aku memohon hal seperti itu kepada Allah, sementara Rasulullah tidak memohon hal yang sama?'. Maka aku pun tidak jadi memohon yang seperti itu. Kemudian Allah membuatku terbebas dari perhatian terhadap wanita, hingga aku tidak peduli apakah aku berhadapan dengan wanita ataukah dengan dinding."

***

Allahu a'lam, semoga bermanfaat..
Esha Ardhie
2 Syawal 1436 H


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 8:30:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan komentar Anda, berbagi pengetahuan dan sudut pandang Anda. Setiap artikel sangat memungkinkan untuk diperbaiki dan dilakukan pengeditan..