Aib Yang Paling Jelek


Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan,

ﻭ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﺢ ﺍﻟﻨﻘﺺ ﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻓﺈﻥ ﻗﻮﻳﺖ ﻫﻤﺘﻪ ﺭﻗﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﺎﺭ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻣﺬﻫﺒﺎ ﻭ ﻻ ﻳﺘﻤﺬﻫﺐ ﻷﺣﺪ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻤﻘﻠﺪ ﺃﻋﻤﻰ ﻳﻘﻮﺩﻩ ﻣﻘﻠﺪﻩ

“Termasuk aib yang paling jelek adalah taqlid, ikut-ikutan dalam beragama. Semangat yang membaja akan meningkatkan kualitas seseorang sehingga dia memiliki kemampuan untuk memilih pendapat yang kuat dan tidak sekedar mengikuti pendapat orang lain. Orang yang taklid buta itu hanya membebek dan mengekor orang yang dia ikuti.” [Shaid al-Khathir hal. 163]

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun." [QS. Al-Anfal: 22]

Kita diperintahkan dalam Agama ini untuk mengikuti dalil dan tidak memperkenankan seseorang untuk bertaqlid kecuali dalam keadaan darurat (mendesak), yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti. Dan hal ini berlaku dalam seluruh permasalahan agama, baik yang terkait dengan akidah maupun dalam bidang hukum atau fikih.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN TAQLID..?

Taqlid secara bahasa adalah meletakkan “al-qiladatun” (kalung) ke leher. Dipakai juga dalam hal menyerahkan perkara kepada seseorang seakan-akan perkara tersebut diletakkan di lehernya seperti kalung. [Lisanul Arab 3/367 dan Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 314].

Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad. [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178].

Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 314]

Jadi, seseorang dikatakan sebagai muqallid (orang yang taqlid) adalah apabila seseorang meyakini sesuatu atau berbuat sesuatu atau memutuskan sesuatu tanpa mengetahui dasar atau dalil terhadapnya, tetapi hanya sekedar mengikuti seseorang atau ikut-ikutan. Jika seseorang mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka dia bukanlah disebut sebagai orang yang taqlid, tetapi disebut sebagai orang yang ittiba’, yaitu orang yang mengikuti dalil. Jika seseorang menelusuri dalil dalam suatu perkara yang terdapat khilaf atau perselisihan ulama di dalamnya, lalu ia pun mengikuti salah satu ulama yang diketahui kebenarannya, maka ia pun tidak disebut sebagai orang yang taqlid, namun ia hanya dikatakan memilih atau menguatkan pendapat saja.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Orang yang bertaqlid (muqallid) ini, apabila dia mengetahui dalil (dari pendapat orang yang diikutinya), maka dia telah memperoleh petunjuk dan (hakekatnya) dia bukanlah seorang muqallid." [I’lam al-Muwaqqi’in 2/189]

Dalam suatu perkara yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat para ulama, seseorang bisa menilai suatu pendapat itu lebih kuat daripada pendapat yang lain, dan mengatakan bahwa pendapat lain adalah lemah, itu karena ia mengetahui dalil dan sisi pendalilan dari masing-masing pendapat. Jadi, orang yang taqlid (tidak mengetahui dalil) tentu tidak berhak menguatkan ataupun melemahkan pendapat-pendapat yang ada.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

ﺑَﻞْ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﻘَﻠِّﺪًﺍ ﻟَﺰِﻡَ ﺣُﻜْﻢَ ﺍﻟﺘَّﻘْﻠِﻴﺪِ ؛ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﺮَﺟِّﺢْ ؛ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺰَﻳِّﻒْ ؛ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺼَﻮِّﺏْ ؛ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨَﻄِّﺊْ

“Siapa yang menjadi muqallid (ahli taqlid) maka berlaku hukum taqlid untuknya. (Yaitu) Ia tidak punya wewenang menguatkan pendapat (merajihkan). Ia tidak boleh merendahkan pendapat yang lain. Ia tidak boleh menyatakan pendapatnya yang paling benar dari pendapat lainnya. Ia pun tak boleh menyatakan salah pada pendapat lain.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35: 233].

TIGA JENIS MANUSIA

Ijtihad, menurut bahasa artinya adalah mencurahkan semua kemampuan untuk menghasilkan perkara yang besar. Adapun menurut istilah, ijtihad artinya mencurahkan semua kemampuan untuk mengetahui hukum syar’i. Adapun seorang yang mencurahkan semua kemampuannya untuk mengetahui hukum syar’i, disebut Mujtahid.

Para ulama membagi manusia menjadi tiga bagian:

1. Ulama mujtahid.
2. Muttabi’, yang mengikuti suatu pendapat berdasarkan ilmu.
3. Orang yang bertaqlid.

Taqlid itu sendiri dibenarkan dalam dua kondisi:

PERTAMA. Untuk orang awam yang tidak mampu mengetahui hukum agama secara langsung, maka taklid hukumnya adalah WAJIB dengan bertanya kepada ulama. Karena Allah berfirman,

ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

"Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." [QS. Al-Anbiya‘: 7]

Orang awam seperti ini dianjurkan untuk memilih orang yang lebih utama keilmuannya dan kewara’annya. Kalau menurutnya ada dua orang yang sama dalam keilmuan dan kewara’annya, maka dia boleh memilih salah satu di antara keduanya.

Sebagai contoh, ada seorang awam mendengarkan seorang alim mengatakan “Zakat fitrah itu wajib dengan makanan pokok". Kemudian ia juga mendengar ada seorang alim lainnya mengatakan “Zakat fitrah itu tidak wajib dengan makanan pokok, melainkan bisa diganti dengan yang lain (misalnya uang)”. Disini dia dihadapkan kepada dua pendapat, maka dia boleh memilih salah satunya, tetapi hendaknya bertaqlid kepada yang lebih dekat kepada kebenaran karena keilmuan dan kewara'annya.

KEDUA. Seorang mujtahid yang menghadapi persoalan yang harus segera dijawab, tetapi ia tidak memiliki kelonggaran waktu untuk berijtihad. Ia juga tidak mungkin merujuk kitab-kitab, dalil-dalil atau pun menelaah perkataan-perkataan ulama, maka dia boleh bertaqlid.

Syaikh Utsaimin mencontohkan, apabila beliau tidak mampu mengetahui hukum suatu masalah dan hal itu melelahkannya. Maka biasanya beliau bertaqlid kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Menurut Syaikh Utsaimin, perkataan Syaikhul Islam lebih dekat kepada kebenaran dari pada ulama lain. Tetapi dalam hal ini bukan berarti tidak boleh bertaqlid kepada yang lain, karena pendapat yang rajih ialah apabila ada dua orang ‘alim dan salah satunya lebih utama dari pada yang lain, maka tidak mesti wajib bertaqlid kepada yang lebih utama, tapi boleh juga bertaqlid kepada yang tingkatannya di bawahnya.

TAQLID YANG TERCELA DAN TERPUJI

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Menurut mayoritas ulama, ijtihad itu boleh secara umum. Begitu pula taklid boleh secara umum. Setiap orang tidak diwajibkan untuk berijtihad dan tidak diharamkan untuk taklid. Begitu pula setiap orang tidak diwajibkan untuk taklid dan tidak diharamkan untuk berijtihad. Ijtihad boleh-boleh saja bagi orang yang punya kapabilitas untuk berijtihad. Begitu pula taklid boleh-boleh saja bagi orang yang tidak mampu untuk berijtihad." [Majmu’ Al-Fatawa, 20: 203].

Taqlid itu sendiri pun bisa jadi termasuk perkara yang buruk (jelek) dan bisa juga taqlid itu dikatakan terpuji.

A. Taqlid Tercela

Para ulama menyebutkan jenis-jenis taqlid yang tercela sebagai berikut:

1). Berpaling dari apa yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan memilih mengikuti nenek moyang.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah mencela orang yang berpaling dari apa yang diturunkan-Nya lalu bertaqlid kepada nenek moyang. Para ulama salaf dan imam yang empat akan bersepakat bahwa taqlid semacam ini tercela dan haram.”

2). Taqlid kepada orang yang bukan ahlinya dengan mengambil ucapannya.

Allah ta'ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36).

3). Taqlid kepada ucapan yang menyelisihi firman Allah dan Rasul-Nya, siapa pun dia.
Allah ta'ala berfirman,

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” (QS. Al-A’raf: 3).

4). Taqlid kepada seseorang setelah jelas kebenaran dan dalilnya.

5). Taklid seorang mujtahid yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dan memiliki keluangan waktu untuk membahasnya.

6). Taqlid kepada seorang mujtahid dalam seluruh pendapat dan ijtihadnya. [Ma’alim fi Ushulil Fiqhi, hlm. 498].

Ibnu Taimiyah rahimahullah pun berkata,

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣُﺘَّﺒِﻌًﺎ ﻟِﺄَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﺃَﻭْ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺃَﻭْ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﺪ : ﻭَﺭَﺃَﻯ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺋِﻞِ ﺃَﻥَّ ﻣَﺬْﻫَﺐَ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺃَﻗْﻮَﻯ ﻓَﺎﺗَّﺒَﻌَﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺪَﺡْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻨِﻪِ . ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺪَﺍﻟَﺘِﻪِ ﺑِﻠَﺎ ﻧِﺰَﺍﻉٍ ؛ ﺑَﻞْ ﻫَﺬَﺍ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺃَﺣَﺐُّ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳَﺘَﻌَﺼَّﺐُ ﻟِﻮَﺍﺣِﺪِ ﻣُﻌَﻴَّﻦٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﻤَﻦْ ﻳَﺘَﻌَﺼَّﺐُ ﻟِﻤَﺎﻟِﻚِ ﺃَﻭْ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﺪ ﺃَﻭْ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﻭَﻳَﺮَﻯ ﺃَﻥَّ ﻗَﻮْﻝَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻤُﻌَﻴَّﻦِ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﺏُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺍﺗِّﺒَﺎﻋُﻪُ ﺩُﻭﻥَ ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﺎﻟَﻔَﻪُ .

“Jika seseorang mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah atau Imam Malik atau Imam Syafi’i atau Imam Ahmad, lalu ia melihat pendapat lainnya ternyata lebih kuat dari pendapat tersebut, maka hendaklah ia mengikutinya. Itu lebih baik dan tidak mencacati agamanya, juga tidak membuatnya dianggap jelek tanpa ada khilaf dari para ulama akan hal ini. Bahkan mengikuti pendapat yang benar itulah yang lebih dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya daripada ta’ashub (fanatik) pada salah satu pendapat selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ada yang bersikap fanatik pada Malik, Syafi’i, Ahmad atau Abu Hanifah lalu menilai pendapat imamnya-lah yang paling benar dan pendapat lain yang menyelisihi tak pantas diikuti.” [Majmu’ Al-Fatawa, 22: 248].

Karena ada juga orang-orang yang disebut dengan istilah "Taklid Buta" atau "Fanatik Buta", yaitu ketika seseorang mengabaikan pendapat yang telah jelas bagi dia kebenarannya. Dalil telah tegak dan kebenaran telah tersingkap tetapi dia tidak mau mengambil kebenaran itu, membuangnya dan tetap berpegang kepada pendapat yang keliru. Hal inilah yang diungkapkan dalam sebuah pepatah arab yang mengatakan,

ﻋﻨﺰﺓ ﻭﺇﻥ ﻃﺎﺭﺕ

“Itu kambing walaupun terbang.”

Asal mula pepatah itu adalah konon dikisahkan ada dua orang sahabat yang sedang berjalan bersama. Di tengah perjalanan, salah saorang dari mereka tiba-tiba melihat satu benda hitam.

Salah seorang berkata: “Apakah engkau melihat burung gagak yang berada nun jauh di sana itu?“

Sahabatnya menjawab: “Ya, saya melihatnya, namun itu bukan burung gagak, akan tetapi itu adalah kambing.“

Tak ayal lagi mereka berdua segera hanyut dalam perdebatan tentang benda berwarna hitam tersebut. Di tengah-tengah perbedebatan berlangsung sengit, benda berwarna hitam itu pun terbang, sehingga terbuktilah bahwa benda itu sebenarnya adalah buruk gagak.

Walau demikian, betapa mengejutkannya bahwa orang yang berpendapat benda itu adalah seekor kambing menyeletuk berkata:

ﻋﻨﺰﺓ ﻭﺇﻥ ﻃﺎﺭﺕ

“Itu (tetap) kambing walaupun terbang.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah pun berkata,

ﺇﺫَﺍ ﺃَﻓْﺘَﻰ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻔْﺘِﻲَ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻢْ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻔْﺘِﻲ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣُﺨَﺎﻟِﻒٌ ﻟِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟْﻤُﻄِﻴﻊُ ﻟِﻬَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻋَﺎﺻِﻴًﺎ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺇﺫَﺍ ﻋَﻠِﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣُﺨَﺎﻟِﻒٌ ﻟِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻄَﺎﻋَﺘُﻪُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٌ ﻟِﻠَّﻪِ

“Jika seorang ahli fatwa mengeluarkan fatwa di mana ia tidak mengetahui kalau ia menyelisihi aturan Allah, maka orang yang mengikuti (mentaati) pendapat tersebut tidak disebut bermaksiat. Adapun jika ada yang mengetahui orang yang diikuti itu menyelisihi aturan Allah, maka mengikutinya berarti bermaksiat pada Allah.” [Majmu’ Al-Fatawa, 19: 261].

B. Taqlid Terpuji

Sedangkan taqlid yang terpuji adalah sebagaimana yang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan tentangnya, beliau berkata,

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﺎﺟِﺰًﺍ ﻋَﻦْ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﺣُﻜْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﻗَﺪْ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻭَﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦْ ﻟَﻪُ ﺃَﻥَّ ﻗَﻮْﻝَ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺃَﺭْﺟَﺢُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺤْﻤُﻮﺩٌ ﻳُﺜَﺎﺏُ ﻟَﺎ ﻳُﺬَﻡُّ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻌَﺎﻗَﺐُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺎﺩِﺭًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟِﺎﺳْﺘِﺪْﻟَﺎﻝِ ﻭَﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺍﺟِﺢُ

“Adapun orang yang tidak mampu mengenal hukum Allah dan Rasul-Nya, lalu ia cuma taqlid pada orang yang berilmu dan memiliki agama yang baik, tidak nampak baginya pendapat yang lebih baik dari pendapat tersebut, maka orang yang taklid seperti itu tetap terpuji dan mendapatkan pahala, tidak dicela, tidak boleh dihukum. Walaupun ia saat itu mampu untuk mencari dan mengenal dalil yang lebih kuat.” [Majmu’ Al-Fatawa, 20: 225].

Imam Ibnul Qayyim pun mengatakan,

“Sesungguhnya Allah ta’alla mencela orang-orang yang berpaling dari apa yang diturunkan oleh Allah kemudian bertaqlid kepada perbuatan nenek moyang. Taqlid semacam inilah yang dicela dan diharamkan menurut kesepakatan para ulama salaf dan imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Ays-Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal). Adapun taklid yang dilakukan oleh orang yang sudah mengerahkan segenap upaya untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah (dalil), namun sebagian permasalahan luput dari pengetahuannya, kemudian dia pun bertaklid kepada seseorang yang lebih alim dari dirinya, maka taklid semacam ini terpuji, tidak dicela, diberi pahala dan tidak berdosa.” [I’lam al-Muwaqqi’in 2/188].

Ada saatnya bahwa taqlid itu disebut terpuji, yaitu ketika dengan cara bertaqlid tersebut seseorang dapat menjalankan ajaran syariat Islam ini dengan segera.

BERTAKWA KEPADA ALLAH SEMAMPUNYA

Dari sedikit keterangan yang telah lalu, kita tahu bahwa ulama pun yang dalam kelasnya mujtahid bahkan bisa jadi atau pernah bertaqlid dalam suatu perkara, lantas apalagi kita..??? Tentunya kita banyak bertaqlid dalam banyak hal mengenai penerapan syariat Islam dalam kehidupan ini, dan diri kita pun pasti mengakui hal tersebut.

Ibnu Taimiyah berkata,

ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺣَﻴْﺚُ ﻋَﺠَﺰَ ﺳَﻘَﻂَ ﻋَﻨْﻪُ ﻭُﺟُﻮﺏُ ﻣَﺎ ﻋَﺠَﺰَ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻧْﺘَﻘَﻞَ ﺇﻟَﻰ ﺑَﺪَﻟِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺘَّﻘْﻠِﻴﺪُ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮْ ﻋَﺠَﺰَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻄَّﻬَﺎﺭَﺓِ ﺑِﺎﻟْﻤَﺎﺀِ . ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِّﻲُّ ﺇﺫَﺍ ﺃَﻣْﻜَﻨَﻪُ ﺍﻟِﺎﺟْﺘِﻬَﺎﺩُ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺋِﻞِ ﺟَﺎﺯَ ﻟَﻪُ ﺍﻟِﺎﺟْﺘِﻬَﺎﺩُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟِﺎﺟْﺘِﻬَﺎﺩَ ﻣُﻨَﺼَّﺐٌ ﻳَﻘْﺒَﻞُ ﺍﻟﺘﺠﺰﻱ ﻭَﺍﻟِﺎﻧْﻘِﺴَﺎﻡَ ﻓَﺎﻟْﻌِﺒْﺮَﺓُ ﺑِﺎﻟْﻘُﺪْﺭَﺓِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺠْﺰِ ﻭَﻗَﺪْ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻗَﺎﺩِﺭًﺍ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾٍ ﻋَﺎﺟِﺰًﺍ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾٍ

“Ketika seseorang tidak mampu berijtihad, maka kewajiban berijtihad jadi gugur. Ketika itu beralihlah kepada taklid. Sebagaimana seseorang yang tidak mampu bersuci dengan air, ia tentu beralih pada penggantinya. Begitu pula orang awam ketika ia mampu berijtihad untuk sebagian masalah, maka boleh ia berijtihad pada masalah tersebut. Ijtihad boleh terbagi-bagi seperti itu. Intinya dilihat dari kemampuan dan ketidakmampuan. Boleh jadi seseorang mampu berijtihad dalam suatu masalah, dan masalah lain tidak demikian.” [Majmu’ Al-Fatawa, 20: 204].

Dan Allah pun berfirman,

ﻟَﺎ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

“Allah tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” [QS. Al-Baqarah: 286].

ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ

“Bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian.” [QS. At Taghabun: 16].

Kita diperintahkan untuk sebisa mungkin memahami ajaran agama ini. Menjadi orang yang tidak tahu tentu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, sebagaimana atsar Ibnul Jauzi di awal yang mengatakan bahwa taqlid adalah salah satu aib yang paling buruk, maka kita pun harus berilmu, memikirkan (bertafakkur) dan merenungi (bertadabbur) ayat-ayat Allah sebagaimana yang Allah perintahkan dalam firman-Nya,

ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻑِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻟَﺂَﻳَﺎﺕٍ ﻟِﺄُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻟْﺒَﺎﺏِ. ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺟُﻨُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫَﺬَﺍ ﺑَﺎﻃِﻠًﺎ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS. Ali Imran: 190-191].

SESAMA ORANG TAQLID JANGAN SALING MENCELA

Orang yang taqlid adalah orang yang tidak mengetahui dalil. Orang juga dikatakan taqlid apabila seseorang hanya mengetahui satu pendapat ulama saja dan tidak tahu pendapat yang lainnya. Dan telah lalu ungkapan Ibnu Taimiyah rahimahullah bahwa orang yang taqlid tidak dapat menguatkan ataupun melemahkan pendapat-pendapat yang ada. Maka tidak etis jika sesama orang taqlid saling mencela, menganggap pendapatnya yang paling benar dan menyalah-nyalahkan pendapat yang lain.

Ungkapan Ibnu Taimiyah rahimahullah yang dimaksud, selengkapnya adalah sebagai berikut:

“Siapa yang sudah cenderung taklid pada satu pendapat ulama, maka tak perlu ia ingkari pendapat lainnya yang didasarkan pada taklid pula. Namun jika salah satu dari kedua pendapat tersebut menampilkan argumen syar’i, maka hendaklah argumen tersebut diterima jika benar dalilnya.

Tak perlulah seseorang mengembalikan satu perkataan pada perkataan lain tanpa adanya dalil. Jangan terlalu fanatik pula pada satu pendapat dengan menihilkan pendapat yang lain tanpa ada landasan apa-apa.

Bahkan sebagai muqollid (orang yang taklid), berlaku padanya hukum taklid. Orang yang taklid tak bisa merajihkan atau menguatkan pendapat. Orang yang taklid tak bisa merendahkan pendapat yang lain. Orang yang taklid tak bisa menyatakan pendapat yang ia pilih yang paling benar. Ia pun tak bisa menyalahkan pendapat yang lain.

Sedangkan yang memiliki ilmu dan penjelasan, sikapnya adalah ia dapat menghukumi sesuatu itu benar atau menyanggah pendapat yang batil. Adapun pendapat yang tidak ada penjelasannya, ia tawaqquf (bersikap abstain).

Perlu dipahami bahwa dalam hal kecerdasan, manusia itu bertingkat-tingkat sebagaimana dalam hal kekuatan badan berbeda-beda pula.

Permasalahan ini dan semacamnya adalah di antara rahasia ilmu fikih. Untuk mendalaminya hanyalah diraih oleh orang yang mau menimbang berbagai pendapat ulama. Sedangkan orang yang hanya mengetahui satu pendapat saja dan tidak mengetahui pendapat ulama yang lain, maka ia hanya dianggap sebagai orang awam yang sekedar taklid. Ia bukan termasuk ulama yang dapat menguatkan atau menyalahkan pendapat yang lain.

ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳَﻬْﺪِﻳﻨَﺎ ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻨَﺎ ﻟِﻤَﺎ ﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﻭَﻳَﺮْﺿَﺎﻩُ

Allah-lah yang menunjukkan kita dan saudara-saudara kita pada jalan yang dicintai dan diridhai oleh-Nya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35: 233].

Jika taqlid itu dikatakan aib, mengapa kita sibuk mengurusi aib orang lain sedangkan aib sendiri tidak diperhatikan, luput dari pandangan..? Karena tidak sedikit orang yang dikatakan "baru mengenal sunnah" atau istilahnya juga "baru ngaji", tetapi sikapnya terlalu ekstrim terhadap pendapat yang bersebrangan dengannya, mencela-cela amalan orang lain, padahal ia hanya taqlid kepada ustadznya itu, padahal ia belum tau dalil dan sisi pendalilan dari pendapat yang berbeda dengannya itu. Apalagi sikap ekstrimnya itu ditujukan pada masalah fikih, yang sejatinya perbedaan dalam fikih adalah hal yang wajar dan harus disikapi dengan wajar pula, bukan dengan sikap ekstrim. Sesungguhnya mengetahui perselisihan ulama adalah penting bagi penuntut ilmu karena kejahilan tentangnya menjadikan seorang akan bertikai, bermusuhan, dan sejenisnya.

Imam Qatadah berkata,

مَنْ لَمْ يَعْرَفِ الِاخْتِلَافَ لَمْ يَشُمَّ رَائِحَةَ الْفِقْهِ بِأَنْفِهِ

“Barang siapa tidak mengetahui perselisihan ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih.” [Jami’ Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr, 2/815].

Allahu a'lam..
Semoga bermanfaat,

Esha Ardhie
28 Ramadhan 1436 H


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." [HR. Muslim no. 1893]


Blognya Esha Ardhie Updated at: 4:52:00 PM

1 komentar:

  1. Alhamdulillah pencerahanya..Jazahumullah khairan

    ReplyDelete

Silahkan masukkan komentar Anda, berbagi pengetahuan dan sudut pandang Anda. Setiap artikel sangat memungkinkan untuk diperbaiki dan dilakukan pengeditan..